Berita BoTriMe hari ini

CSS

Kode Recentpost Grid

BERITA TERBARU

TEMPAT CADANGAN

Berita Utama

YOUTUBE

Berita Hukum, Sepakbola, MotoGP, Peristiwa, Viral,Kesehatan, Opini,Otootif

BERITA TEKNO,SAINS,BISNIS

Lifestyle dan Kesehatan

16/05/2026

IMI sebut car meet Toyota bisa dorong UMKM otomotif

Jakarta - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (IMI) Moreno Soeprapto menilai kegiatan komunitas seperti Toyota GR Car Meet 2026 dapat membantu mendorong pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor otomotif.

Menurut Moreno, kegiatan otomotif berbasis komunitas tidak hanya menjadi ajang berkumpul pecinta kendaraan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku modifikasi, pemasok komponen, hingga industri pendukung otomotif.

“Melalui event ini saya harapkan dapat mendukung industri otomotif, modifikator, supplier level UMKM yang juga dapat tumbuh dan berkembang bersama menggerakkan roda perekonomian di bidang otomotif,” ujar Moreno dalam acara Toyota GR Car Meet 2026 di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan perkembangan industri modifikasi dan aftermarket membutuhkan dukungan melalui kegiatan komunitas yang rutin digelar agar ekosistem otomotif nasional terus berkembang.

Selain itu, Moreno juga mengapresiasi kiprah Toyota Gazoo Racing Indonesia yang dinilai konsisten mengikuti berbagai ajang balap nasional maupun internasional.

“Selain itu juga saya mengapresiasi Toyota Gazoo Racing Indonesia yang secara konsisten berpartisipasi pada ajang balap nasional maupun internasional mewakili Indonesia,” katanya.

Diketahui, Toyota GR Car Meet 2026 menghadirkan lebih dari 400 mobil Toyota dengan berbagai konsep modifikasi seperti balap, stance, off-road, campervan, hingga Japanese Domestic Market (JDM).

Acara tersebut juga melibatkan komunitas Toyota, modifikator, kurator otomotif, serta pelaku industri purnajual dan hiburan otomotif.

Moreno berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai ruang kolaborasi antara komunitas, pelaku industri modifikasi, dan produsen kendaraan.

“Saya harap event seperti ini dapat terus berlanjut karena pertemuan ini menjadi rumah bagi modifikasi, kurator, dan teman-teman komunitas,” ujarnya.

Pewarta : Adimas Raditya Fahky P/ANTARA

Berita ini telah ditayangkan di BorneoTribun dengan Judul IMI sebut car meet Toyota bisa dorong UMKM otomotif, Link: https://www.borneotribun.com/2026/05/imi-sebut-car-meet-toyota-bisa-dorong.html

Virus penjaga kehidupan, terapi fag di tengah resistensi antibiotik

Jakarta - Bagi sebagian orang, antibiotik sering dianggap "obat sakti". Begitu demam atau batuk tak kunjung reda, mereka langsung mencari resep lama, membeli tanpa konsultasi, atau menyimpan stok untuk "jaga-jaga".

Survei WHO dan Kementerian Kesehatan menunjukkan praktik seperti ini masih marak di Indonesia: antibiotik sering dikonsumsi tanpa resep, tidak sesuai dosis, atau dihentikan sebelum waktunya.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa dari 22,1 persen masyarakat yang menggunakan antibiotik oral dalam 1 tahun terakhir, 41 persen di antaranya memperoleh antibiotik tanpa resep.

Kebiasaan ini ternyata punya konsekuensi besar. Bakteri yang terbiasa "dihajar"  dengan antibiotik secara sembarangan menjadi kebal.

Di bangsal rumah sakit, akibatnya tampak nyata. Seorang pasien datang dengan luka yang sulit sembuh. Antibiotik diberikan, kultur bakteri diperiksa. Lalu muncul kabar yang membuat dokter, keluarga, dan pasien sama-sama cemas: bakteri itu resisten. Obat yang selama puluhan tahun menjadi tameng kedokteran modern tidak lagi bekerja sekuat dulu.

Krisis itu bernama resistensi antimikroba atau AMR (antimicrobial resistance), yaitu keadaan ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit tidak lagi mempan terhadap obat antimikroba.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan AMR bakteri menyebabkan 1,27 juta kematian global pada 2019 dan berkontribusi pada 4,95 juta kematian. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 133.800 kematian yang berasosiasi dengan AMR pada 2019 sehingga menempatkan Indonesia pada posisi ke-78 dengan angka kematian tertinggi (terstandar usia) terkait AMR dari 204 negara.

Kementerian Kesehatan RI bersama WHO telah meluncurkan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan 2025-2029. Arah besarnya jelas. Deteksi harus diperkuat, antibiotik harus digunakan secara bijak, dan edukasi publik harus diperluas. Pendekatan One Health harus menghubungkan kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan.

Pemburu bakteri sunyi

Di tengah dinamika itu, terapi bakteriofag, atau terapi fag, kembali memasuki percakapan ilmiah. Fag adalah virus yang secara alami menginfeksi bakteri. Ia bukan virus yang dirancang untuk menyerang sel manusia. Ia mencari bakteri tertentu, menempel di permukaannya, memasukkan materi genetik, memperbanyak diri, lalu memecahkan bakteri dari dalam.

Dalam terapi, fag yang paling diharapkan ialah fag litik, yaitu fag yang langsung menghancurkan bakteri. Sedangkan virus fag jenis temperate harus digunakan dengan lebih hati-hati, karena ia bisa bersembunyi dan menempel di dalam DNA bakteri sebagai profag.

Perbedaan ini penting. Terapi klinis membutuhkan fag yang aman, stabil, terkarakterisasi, dan tidak membawa gen toksin atau gen resistensi antibiotik.

Terapi fag bekerja seperti anak kunci. Ia tidak menghancurkan semua pintu. Ia hanya membuka sasaran yang cocok. Inilah perbedaannya dengan antibiotik spektrum luas. Antibiotik dapat membunuh banyak bakteri sekaligus, termasuk sebagian mikroba baik.

Fag lebih selektif. Karena itu, ia menarik bagi masa depan terapi infeksi yang lebih presisi, terutama pada infeksi bakteri resisten, infeksi kronis, infeksi luka, infeksi alat implan, infeksi saluran kemih berulang, dan infeksi yang melibatkan biofilm (lapisan pelindung bakteri).

Presisi, bukan mukjizat

Namun, terapi fag bukan obat ajaib. Ia bukan pengganti total antibiotik. Ia lebih tepat dibaca sebagai teknologi tambahan dalam gudang kedokteran modern. Banyak pendekatan justru menggabungkan fag dengan antibiotik. Tujuannya bukan hanya membunuh bakteri dari dua arah.

Dalam beberapa konteks, resistensi bakteri terhadap fag dapat membuat bakteri kehilangan kebugaran atau kembali lebih peka terhadap antibiotik. Meski begitu, efek ini tidak selalu terjadi. Setiap kombinasi fag, bakteri, antibiotik, dosis, dan pasien perlu diuji dengan hati-hati.

Ada tiga pilar penting agar terapi fag tidak berhenti sebagai kisah heroik sesaat. Pertama, fag harus sampai ke lokasi bakteri dalam jumlah memadai. Ini berkaitan dengan farmakokinetik (cara terapi masuk, menyebar, bertahan, dan dibersihkan tubuh).

Kedua, fag harus benar-benar cocok dengan bakteri sasaran. Ini berkaitan dengan farmakodinamik (cara terapi bekerja pada target). Ketiga, terapi harus mengantisipasi evolusi resistensi bakteri terhadap fag. Bakteri dapat berubah. Karena itu, terapi presisi juga harus adaptif.

Alur terapi fag modern dimulai dari diagnosis. Bakteri penyebab infeksi harus diidentifikasi. Setelah itu, laboratorium menguji apakah bakteri tersebut peka terhadap fag tertentu. Proses ini dapat melibatkan phage susceptibility testing (uji kepekaan bakteri terhadap fag), host-range testing (uji cakupan sasaran bakteri), sekuensing genom fag, pemeriksaan gen toksin, pemeriksaan gen resistensi antibiotik, dan penilaian stabilitas fag. Produk fag juga perlu diproduksi dengan standar mutu yang aman.

Di sinilah terapi fag berubah dari cerita mikrobiologi menjadi kerja ekosistem. Dokter tidak cukup bekerja sendiri. Mikrobiolog, farmasis, ahli genomik, ahli imunologi, bioinformatikawan, regulator, industri, dan rumah sakit harus berada dalam satu rantai. Di Indonesia, rantai ini dapat dimulai dari rumah sakit pendidikan dan laboratorium rujukan daerah. Setiap isolat bakteri resisten dari pasien tidak hanya menjadi laporan laboratorium. Ia juga dapat menjadi bahan belajar nasional untuk membangun biobank bakteri, bank fag, dan peta resistensi lokal.

Menimbang fag

Peta dunia menunjukkan satu hal penting. Terapi fag tidak bergerak dengan cara yang sama di setiap negara. Ada yang menempuh jalur riset klinis, ada yang memakai akses khusus, ada yang bertahan dengan tradisi lama, dan ada yang mulai menyusun bahasa regulasi baru.

Untuk Indonesia, pertanyaan terpenting bukan kapan terapi fag menjadi tren. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah siapa yang akan menjaga mutunya. Terapi fag membutuhkan laboratorium mikrobiologi yang kuat. Ia membutuhkan surveilans AMR yang rapi. Ia membutuhkan tata kelola biobank. Ia memerlukan BPOM, Kemenkes, BRIN, universitas, rumah sakit, industri farmasi, dokter, farmasis, dokter hewan, ahli pangan, ahli lingkungan, dan komunitas pasien.

Konteks Indonesia sangat konkret. Luka diabetes yang lama tidak sembuh dapat menjadi pintu infeksi berat. Infeksi pascaoperasi dapat memperpanjang rawat inap. Infeksi saluran kemih berulang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup. Pangan ayam atau ikan dapat menjadi ruang penting untuk pengendalian bakteri. Air limbah rumah sakit dapat menjadi cermin ekologi resistensi. Kultur bakteri di rumah sakit daerah dapat menjadi pintu pertama menuju terapi yang lebih tepat, karena dokter tidak lagi menebak musuh, melainkan membaca identitasnya.

Penulis belum dapat mengonfirmasi adanya regulasi Indonesia yang secara spesifik mengatur terapi fag klinis manusia dari sumber resmi. Kebijakan Indonesia yang sudah terverifikasi adalah pengendalian AMR melalui strategi nasional, regulasi penggunaan antimikroba, penguatan deteksi, Program Pengendalian Resistensi Antimikroba, edukasi publik, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Ini dapat menjadi fondasi awal sebelum Indonesia berbicara lebih jauh tentang terapi fag klinis.

Aplikasi fag di pangan dan lingkungan tidak boleh disamakan langsung dengan terapi klinis manusia. Untuk pasien, fag harus melewati identifikasi bakteri, uji kepekaan, karakterisasi genom, penilaian keamanan, dan produksi bermutu. Di pangan, pertanian, perikanan, dan lingkungan, fag dapat dikaji untuk mengendalikan bakteri berbahaya. Namun, standar, tujuan, dan risiko tiap bidang berbeda.

Etika sebelum euforia

Harapan terhadap terapi fag harus berjalan bersama pagar etik. Fag harus dipastikan tidak membawa gen virulensi, gen toksin, atau gen resistensi antibiotik. Produk harus bersih dari kontaminasi berbahaya, dosis harus dikaji, rute pemberian harus jelas. Respons imun pasien harus dipantau, resistensi bakteri terhadap fag harus diantisipasi, terapi personal harus memakai informed consent (persetujuan sadar pasien) yang kuat.

Indonesia tidak perlu memulai dari euforia. Indonesia perlu memulai dari peta jalan yang rapi. Pertama, perkuat laboratorium mikrobiologi klinik dan surveilans AMR. Kedua, bangun bank isolat bakteri resisten dari rumah sakit pendidikan dan jejaring rumah sakit daerah.

Ketiga, kembangkan bank fag nasional dengan standar biosafety. Keempat, susun pedoman riset praklinis, uji klinis, compassionate use, farmakovigilans, dan produksi bermutu. Kelima, libatkan masyarakat agar paham bahwa teknologi baru tidak boleh menjadi alasan memakai antibiotik sembarangan.

Ilmu perilaku berperan besar. Resistensi antibiotik tidak hanya lahir dari mutasi bakteri. Ia juga lahir dari kebiasaan manusia. Membeli antibiotik tanpa resep, menghentikan obat sebelum waktunya, menyimpan sisa obat, memakai antibiotik untuk flu, dan menggunakan antibiotik berlebihan pada peternakan adalah perilaku yang memberi ruang bagi bakteri untuk berevolusi.

WHO menegaskan bahwa penyalahgunaan dan penggunaan berlebihan antimikroba pada manusia, hewan, dan tanaman merupakan pendorong utama munculnya patogen resisten.

Pesan praktisnya sederhana. Jangan membeli antibiotik tanpa resep. Jangan memaksa dokter memberi antibiotik ketika infeksi kemungkinan disebabkan virus. Rawat luka diabetes sejak awal. Perkuat cuci tangan. Jaga pangan keluarga. Pastikan sanitasi rumah baik. Gunakan antibiotik pada hewan secara bertanggung jawab. Dukung rumah sakit yang melakukan kultur bakteri sebelum terapi pada kasus yang sesuai. Masa depan terapi fag dimulai dari perilaku kecil yang dilakukan hari ini.

Fag mengajarkan pelajaran filosofis yang lembut. Penyelamat tidak selalu datang sebagai kekuatan besar yang menyapu semua hal. Kadang ia hadir sebagai makhluk mikroskopik yang bekerja tepat sasaran. Ia tidak menggantikan kebijaksanaan klinis. Ia menuntut kebijaksanaan itu menjadi lebih presisi.

Indonesia tidak hanya membutuhkan obat baru. Indonesia membutuhkan ekosistem baru. Ekosistem yang mempertemukan laboratorium, rumah sakit, regulator, kampus, industri, peternakan, pangan, lingkungan, dan masyarakat.

Di sana, terapi fag bukan sekadar teknologi masa depan. Ia menjadi cara baru membaca kehidupan: bahwa melawan bakteri tidak cukup dengan kekuatan, tetapi juga dengan ketepatan, kesabaran, dan kerendahan hati di hadapan evolusi.

*) Dito Anurogo, alumnus PhD dari IPCTRM TMU Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, dan peneliti.

Oleh dr Dito Anurogo MSc PhD *)/ANTARA

Berita ini telah ditayangkan di BorneoTribun dengan Judul Virus penjaga kehidupan, terapi fag di tengah resistensi antibiotik, Link: https://www.borneotribun.com/2026/05/virus-penjaga-kehidupan-terapi-fag-di.html

15/05/2026

Modal Rp400 Ribu, Pemuda Sampit Buka Jasa Foto Convex Mirror Selfie

Tren convex mirror selfie dimanfaatkan pemuda di Sampit menjadi usaha kreatif jasa foto dengan tarif Rp5 ribu per sesi dan mendapat respons positif masyarakat.
Tren convex mirror selfie dimanfaatkan pemuda di Sampit menjadi usaha kreatif jasa foto dengan tarif Rp5 ribu per sesi dan mendapat respons positif masyarakat.

SAMPIT - Seorang pemuda bernama Jakaria memanfaatkan tren convex mirror selfie yang viral di media sosial dengan membuka jasa foto kreatif di Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Usaha tersebut mulai dijalankan beberapa hari terakhir di sejumlah titik keramaian masyarakat.

Jakaria menawarkan jasa foto menggunakan cermin cembung atau convex mirror dengan tarif Rp5 ribu per sesi. Dalam waktu sekitar tiga menit, pengunjung bisa berfoto menggunakan kamera maupun smartphone pribadi.

“Terinspirasi dari media sosial. Saya mencoba hal-hal yang viral dan belum ada di Sampit,” kata Jakaria di Sampit, Kamis.

Ia memilih lokasi yang ramai dikunjungi warga, seperti Taman Kota Sampit saat Car Free Day, kawasan wisata Terowongan Nur Mentaya pada sore hingga malam hari, hingga area kegiatan masyarakat lainnya.

Menurutnya, konsep foto dengan efek cermin cembung menarik perhatian terutama kalangan muda karena menghasilkan tampilan unik dan estetik yang cocok untuk unggahan media sosial.

Jakaria mengatakan antusiasme masyarakat cukup tinggi sejak jasa tersebut diperkenalkan. Pengunjung ramai datang terutama saat akhir pekan dan malam hari ketika lokasi wisata dipadati warga.

“Alhamdulillah respons masyarakat cukup positif, cukup ramai yang menggunakan jasa ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, usaha tersebut masih dijalankan sebagai pekerjaan sampingan. Saat ini dirinya tetap bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Sampit dan memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjalankan usaha kreatif tersebut.

Sistem kerja bergilir atau shift membuatnya tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan utama dan usaha foto convex mirror.

Untuk memulai usaha itu, Jakaria mengaku tidak membutuhkan modal besar. Ia mengeluarkan biaya sekitar Rp400 ribu lebih untuk membeli cermin cembung secara daring seharga sekitar Rp200 ribu, sementara perlengkapan lain seperti pilox, stiker, dan tiang penyangga dibeli di Sampit.

Fenomena tersebut menunjukkan tren media sosial juga dapat dimanfaatkan menjadi peluang usaha kreatif yang produktif, khususnya bagi anak muda yang jeli melihat peluang di tengah perkembangan konten digital.


Berita ini telah ditayangkan di BorneoTribun dengan Judul Modal Rp400 Ribu, Pemuda Sampit Buka Jasa Foto Convex Mirror Selfie, Link: https://www.borneotribun.com/2026/05/modal-rp400-ribu-pemuda-sampit-buka.html

06/05/2026

Ketahui penularan utama virus hanta dari tikus ke manusia

Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan virus hanta bisa menular melalui inhalasi aerosol dari debu urin tikus yang mengering atau air liur tikus yang sakit virus andes yang dapat menyebabkan penyakit sindrom paru.

“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky dalam percakapan daring dengan ANTARA, Rabu.

Ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan ini menjelaskan virus hanta bisa menular pada orang yang kontak dengan urin atau kotoran tikus di permukaan. Namun penyebaran ini tidak terjadi langsung begitu saja, perlu ada strain tertentu seperti virus andes yang bisa secara terbatas menular pada manusia ketika terjadi kontak silang.

Pada orang yang sudah terkontaminasi virus hanta, ada fase klinis awal yang menyertai seperti demam, nyeri, otot lemas, hingga pada fase kritis adanya kerusakan pembuluh darah paru dan kebocoran cairan sehingga menyebabkan edema dan gagal napas akut.

“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky.

Dicky mengatakan perburukan kondisi menuju fase berat bisa terjadi dalam hitungan hari sehingga penanganan dan deteksi dini diperlukan. Faktor ketahanan hidup jika terjangkit virus hanta adalah diagnosis yang tepat dan cepat untuk menghindari fase paru berat dan kematian karena keterlambatan diagnosis.

Sampai saat ini tidak ada terapi antivirus yang spesifik untuk penyakit ini, namun terapi suportif bisa dilakukan seperti memenuhi kebutuhan oksigen dengan ventilator dan manajemen cairan yang ketat. Ia juga mengatakan potensi virus ini untuk menjadi pandemi global sangat kecil karena penularan utama bukan antar manusia.

Ia juga mengingatkan untuk menjaga kebersihan diri khususnya di lingkungan yang tinggi risiko seperti lingkungan kapal laut, atau di ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas.

Pewarta : Fitra Ashari/ANTARA

Berita ini telah ditayangkan di BorneoTribun dengan Judul Ketahui penularan utama virus hanta dari tikus ke manusia, Link: https://www.borneotribun.com/2026/05/ketahui-penularan-utama-virus-hanta.html

05/05/2026

Kutim Beralih Ke Bus Listrik Pelajar, Tantangan Infrastruktur Jadi Sorotan

Pemkab Kutai Timur uji coba bus listrik sekolah di Sangatta untuk kurangi emisi, kemacetan, dan biaya transportasi pelajar.
Pemkab Kutai Timur uji coba bus listrik sekolah di Sangatta untuk kurangi emisi, kemacetan, dan biaya transportasi pelajar.

Kutim, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mulai menguji penggunaan bus listrik sebagai angkutan pelajar di wilayah Sangatta. Langkah ini menjadi bagian dari strategi daerah dalam mendorong transportasi ramah lingkungan sekaligus menjawab kebutuhan mobilitas siswa.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan bahwa kehadiran bus listrik tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pelajar dalam perjalanan ke sekolah.

Menurut Ardiansyah Sulaiman, program ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang kemacetan, terutama pada jam sibuk pagi dan siang hari.

Selain aspek lingkungan, keberadaan bus listrik juga diharapkan mampu meringankan beban ekonomi keluarga. Orang tua tidak lagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk antar-jemput anak setiap hari.

Uji coba tahap awal menghadirkan satu unit bus dengan kapasitas sekitar 30 penumpang. Meski jumlahnya masih terbatas, pemerintah daerah berencana menambah armada secara bertahap, dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah.

Antusiasme terlihat dari siswa, orang tua, dan pihak sekolah yang menyambut positif kehadiran moda transportasi baru ini.

Penggunaan bus listrik saat ini difokuskan untuk kawasan perkotaan seperti Sangatta. Ardiansyah Sulaiman menilai kondisi geografis Kutai Timur yang berbukit dan tersebar menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan.

Untuk wilayah dengan akses yang lebih sulit, pemerintah mempertimbangkan penggunaan bus berbahan bakar minyak sebagai solusi sementara agar seluruh pelajar tetap mendapatkan layanan transportasi yang layak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur Mulyono menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi program unggulan daerah.

Mulyono menyebut Dinas Pendidikan berperan sebagai penyedia manfaat program, sementara operasional teknis dijalankan oleh Dinas Perhubungan. Perencanaan program ini telah dimulai sejak 2024 dan baru dapat direalisasikan pada tahun ini.

Pada tahap awal, bus listrik akan melayani pelajar SMA Negeri 2 Sangatta Utara yang selama ini belum terjangkau angkutan umum.

Rute perjalanan dimulai dari kawasan Hotel Pinang menuju sekolah. Pemerintah daerah akan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas layanan tanpa mengganggu aktivitas belajar siswa.

FAQ

1. Apa tujuan utama bus listrik di Kutai Timur?
Mengurangi emisi karbon, kemacetan, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pelajar.

2. Berapa jumlah bus yang tersedia saat ini?
Saat ini baru tersedia satu unit untuk tahap uji coba.

3. Siapa yang mengelola program ini?
Program dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan Kutai Timur.

4. Apakah semua wilayah akan menggunakan bus listrik?
Tidak, penggunaan bus listrik difokuskan di wilayah perkotaan, sementara daerah lain menggunakan bus berbahan bakar minyak.

5. Siapa yang menjadi prioritas pengguna bus ini?
Pelajar, khususnya yang belum terlayani angkutan umum seperti di SMA Negeri 2 Sangatta Utara.


Berita ini telah ditayangkan di BorneoTribun dengan Judul Kutim Beralih Ke Bus Listrik Pelajar, Tantangan Infrastruktur Jadi Sorotan, Link: https://www.borneotribun.com/2026/05/kutim-beralih-ke-bus-listrik-pelajar.html