Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK

Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK
Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK.

JAKARTA -- Di tengah tantangan ekonomi yang mulai terasa di berbagai sektor, industri perhotelan ternyata tidak tinggal diam. Para pelaku usaha hotel sudah menyiapkan strategi antisipatif agar bisnis tetap berjalan, meski pendapatan berpotensi menurun sementara biaya operasional masih tinggi.

Founder dan CEO perusahaan manajemen hospitality Mora Group, Andhy Irawan, mengungkapkan bahwa industri perhotelan kini berada pada fase “siaga”. Hal ini disampaikannya dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” yang digelar di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

Menurut Andhy, pelaku industri hotel sudah menyiapkan berbagai skenario terburuk sejak awal. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini masih jauh dari situasi ekstrem seperti saat pandemi.

“Untuk hotel yang sudah berjalan, kami sudah menyiapkan skenario terburuk. Tapi ini tidak separah pandemi,” ujarnya.

Strategi Bertahan: Penyesuaian, Bukan PHK

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri hotel adalah ketimpangan antara pendapatan dan biaya. Saat pemasukan menurun, pengeluaran operasional tetap harus berjalan. Meski begitu, Andhy menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi opsi terakhir yang ingin dihindari.

Sebagai langkah antisipasi, industri lebih memilih melakukan penyesuaian internal. Mulai dari pengaturan ulang jam kerja, hingga penerapan skema cuti tidak berbayar (unpaid leave) jika kondisi ekonomi memburuk.

“Pendapatan bisa turun, tapi biaya tetap jalan. Prinsipnya, kami tidak mau memecat karyawan. Kalau terpaksa, penyesuaian bisa dilakukan, misalnya gaji dibayarkan 60 persen,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi sekaligus menjaga stabilitas operasional jangka panjang.

Belajar dari Krisis, Industri Lebih Siap

Andhy menilai tekanan ekonomi saat ini memang berdampak pada kinerja hotel, namun skalanya masih bisa dikendalikan. Pengalaman menghadapi krisis sebelumnya, terutama pandemi, menjadi bekal penting bagi industri untuk bersikap lebih adaptif.

“Kalau krisis pasti ada dampak. Tapi ini bukan kembali ke masa pandemi. Kita sudah belajar dari pengalaman sebelumnya,” katanya.

Kinerja Positif Masih Terlihat di Sejumlah Daerah

Menariknya, di tengah tantangan ekonomi, beberapa unit hotel yang dikelola Mora Group justru masih menunjukkan performa yang solid. Beberapa daerah bahkan mencatat tingkat okupansi yang sangat baik.

“Secara keseluruhan masih oke. Surabaya masih leading, Banjarbaru juga sangat kuat. Bahkan ada hotel yang sampai harus menolak tamu karena penuh,” ungkap Andhy.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang di industri perhotelan masih terbuka, terutama bagi pelaku usaha yang mampu membaca pasar dengan tepat.

Kunci Bertahan: Selektif dan Fokus Target

Menurut Andhy, strategi selektif menjadi faktor penentu agar bisnis hotel tetap bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi. Fokus pada target pasar dan segmentasi yang jelas membuat pengelolaan bisnis lebih efisien dan terarah.

“Sekarang saya jauh lebih selektif. Karena saya tahu apa tujuan dan targetnya,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai penting agar investasi dan operasional tidak berjalan tanpa arah.

Tata Kelola dan Perizinan Jadi Tantangan Lain

Selain faktor ekonomi, Andhy juga menyoroti persoalan tata kelola industri, khususnya terkait perizinan dan pengawasan akomodasi non-hotel. Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran krusial dalam menciptakan iklim usaha yang sehat dan adil.

“Kuncinya kembali ke pengaturan. Kalau aturannya jelas dan adil, industri juga akan sehat,” tegasnya.

Ia menyinggung maraknya akomodasi berbasis sewa jangka pendek yang dinilai perlu pengawasan lebih ketat agar tidak menimbulkan persaingan tidak seimbang dengan hotel.

“Bukan soal ada atau tidak ada, tapi bagaimana cara mengaturnya,” tambahnya.

Industri Hotel Tetap Tangguh, Asal Tata Kelola Diperkuat

Andhy menutup dengan menegaskan bahwa penguatan tata kelola dan regulasi yang adil menjadi fondasi penting agar industri perhotelan tetap tangguh menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan pariwisata nasional.

Dengan strategi yang tepat, pengalaman dari krisis sebelumnya, serta kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah, industri hotel diyakini masih memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh.

Tinggalkan Komentar anda Tentang Berita ini